Sebanyak 122 peserta mengikuti IT Camp 2026 pada 18–19 Juli 2026 di Villa Zanara, Bogor. Peserta termudanya berusia 15 tahun. Penyelenggaraan tahun ini sekaligus menandai 17 tahun IT Camp digelar setiap tahun.

Acara diselenggarakan oleh Yayasan Onno Center International bersama Pusat Siber TNI Angkatan Darat (Pussiberad). Sebagai peserta, saya melihat satu pola yang terasa kuat sepanjang acara: teknologi tidak berhenti sebagai bahan presentasi. Para pemateri memperlihatkan hasil kerja mereka dan mempraktikkannya di hadapan peserta.

“Kalau kalian sadar, pemateri-pemateri ini tidak hanya berteori. Mereka semua langsung demo dan praktik, sesuatu yang jarang sekali kalian temukan di tempat lain.” — Prof. Onno W. Purbo, pendiri Onno Center

Pendekatan tersebut membuat peserta tidak hanya mengenal istilah baru, tetapi juga melihat bahwa teknologi dapat dipelajari, dibongkar, dan dikembangkan secara mandiri.

AI lokal sebagai jalan untuk belajar mandiri

Salah satu pokok pembahasan IT Camp 2026 adalah membangun AI yang dapat dijalankan pada perangkat dan infrastruktur sendiri. Dzaq R. Purbo mempraktikkan penggunaan Ollama, Open WebUI, dan Retrieval-Augmented Generation (RAG) untuk mengolah pengetahuan dari dokumen lokal.

AI lokal memberi ruang belajar yang berbeda dari layanan siap pakai. Peserta dapat memahami bagaimana model dijalankan, bagaimana data diberikan, serta bagaimana sebuah jawaban dihasilkan. Data juga tidak harus dikirim ke layanan eksternal, sehingga pengguna memiliki kontrol lebih besar atas prosesnya.

Semangat ini dekat dengan open source, di mana alat dapat dipelajari dari dalam, disesuaikan dengan kebutuhan, dan dikembangkan bersama. Kemandirian bukan berarti mengerjakan semuanya sendirian, melainkan memiliki kemampuan untuk memahami dan menentukan teknologi yang digunakan.

SymbiotOS dan sistem operasi yang dekat dengan pengguna

Pada 19 Juli, Ahmad Haris memperkenalkan SymbiotOS, sistem operasi mobile berbasis open source yang dirancang tanpa aplikasi bawaan berlebihan dan memberi perhatian pada privasi pengguna.

Bagian yang paling menarik adalah dukungan bahasa dan aksara Jawa. Contoh ini menunjukkan bahwa sistem operasi lokal bukan hanya mengganti nama atau tampilan. Teknologi dapat disesuaikan dengan bahasa, kebiasaan, dan kebutuhan masyarakat yang sering tidak menjadi prioritas produk global.

Karena kode dan perkakasnya dapat dipelajari, pengembangan sistem seperti SymbiotOS juga membuka peluang bagi pelajar dan pengembang Indonesia untuk memahami sistem operasi melalui praktik nyata.

AI untuk Infrastruktur dan keamanan siber

Dimaz Arno, yang juga tampil pada 19 Juli, mendemonstrasikan bagaimana AI agent dapat membantu proses penetration testing. Dalam salah satu demonstrasi, AI digunakan untuk menguji keamanan sebuah aplikasi permainan Android.

Demo tersebut memperlihatkan bahwa AI dapat menjalankan tahapan teknis dengan cepat. Namun, kemudahan itu juga menegaskan pentingnya etika, izin, dan pemahaman keamanan. Perkakas keamanan seharusnya dipakai pada sistem yang memang memberi izin untuk diuji.

Prof. Onno W. Purbo turut membahas penggunaan AI untuk Security Operation Center dan Open Source Intelligence. Wilson Lisan CEO Efison juga menjelaskan kebutuhan infrastruktur high-performance computing dan menjelaskan bagaimana pengalamannya membangun oprek hardware sampai membangun HPC di Indonesia, sementara sesi-sesi lain memperlihatkan penerapan AI pada pengolahan informasi dan pekerjaan teknis.

Lebih penting dari mengikuti tren

IT Camp 2026 menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai AI di Indonesia tidak harus berhenti pada pemakaian produk dari luar. Model AI dapat dijalankan secara lokal, sistem operasi dapat disesuaikan dengan bahasa daerah, dan software open source dapat menjadi tempat belajar yang bermanfaat.

Bagi saya, kekuatan acara ini bukan hanya banyaknya teknologi yang diperlihatkan. Hal yang lebih penting adalah keberanian para pemateri untuk membuka proses kerja mereka. Peserta dapat melihat kegagalan, penyesuaian, dan cara sebuah sistem dibangun dengan pengalaman yang sulit diperoleh bila teknologi hanya diperkenalkan melalui teori.

Open source menyediakan jalur untuk melanjutkan pembelajaran tersebut setelah acara selesai. Peserta dapat mencoba alat-alat yang sama, membaca dokumentasi, mempelajari kode, lalu membagikan kembali temuannya kepada orang lain.